Home » Tourism » Wayang Ki Ledjar Makin Mendunia

Wayang Ki Ledjar Makin Mendunia

Karya alternatif dalam karya seni wayang kulit yang dikembangkan Ki Ledjar Subroto, seorang seniman wayang asal Yogyakarta, makin menjadi perhatian dunia. Beberapa negara telah mengoleksi karya-karyanya, yang memang cenderung menuju ke wajah wayang kekinian.

Ditemui di rumahnya, Kamis (18/3), Ki Ledjar menyatakan, kreativitasnya membuat wayang muncul sekitar 1980, ketika mendengar keluhan para dalang yang semakin sepi pementasan. Hal ini terjadi, menurutnya, karena ada keterputusan hubungan antara generasi muda dan wayang.

Untuk menjembatani ikatan antara wayang dan generasi muda, Ki Ledjar melahirkan kembali wayang kancil. Dari serat-serat karya pujangga zaman dulu, Ki Ledjar membaca kisah tentang wayang kancil yang digunakan sebagai sarana pendidikan agama Islam oleh Sunan Giri.

Tanpa pernah tahu wujud wayang kancil ciptaan Sunan Giri, Ki Ledjar mulai menciptakan tokoh wayang kancilnya sendiri. Cerita binatang seperti kancil mencuri timun dihidupkan lewat gerakan wayang-wayang binatang. “Anak-anak yang berlarian dan segera duduk memerhatikan ketika saya memainkan wayang kancil,” ujarnya.

Wayang kancil Ki Ledjar kian diminati. Dengan bantuan mahasiswa dan dosen Universitas Gadjah Mada, Ki Ledjar mulai menggelar pertunjukan wayang kancil untuk pertama kali di Gelanggang UGM. Ini menarik perhatian seorang dalang dari Belanda, Rien Baartmans, yang akhirnya selalu memesan wayang kancil ke Ki Ledjar untuk dibawa ke Belanda.

Pertunjukan wayang kancil bagi anak-anak Belanda ternyata sangat disukai. Guru-guru dari Belanda kemudian banyak berdatangan ke rumah mungil sekaligus bengkel kerja Ki Ledjar di Jalan Mataram. Mereka tak sekadar memesan wayang kancil, tetapi juga belajar cara memainkan wayang dari bahan baku kulit binatang tersebut.

Setiap tahun sejak 2008, Ki Ledjar ikut tampil selama 10 hari memainkan wayang kancil di Pasar Malam Tong Tong Belanda. Enam museum di Belanda telah mengoleksi wayang kancil Ki Ledjar, antara lain di Kota Amsterdam, Leiden, dan Horn.

Karya wayang kancil yang telah disimpan di museum Belanda berupa wayang tokoh revolusi Indonesia seperti Sultan Agung dan Pangeran Diponegoro. Saat ini, Ki Ledjar sedang menyelesaikan proses pembuatan wayang sejarah Belanda ketika masih dijajah Spanyol.

Beberapa mahasiswa dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta turut belajar dari Ki Ledjar. Mahasiswi ISI, Jurusan Musik, asal Inggris, Sarah, misalnya, menulis skripsi tentang wayang kancil.

Ketika pulang ke negaranya, Sarah membawa serta beberapa wayang kancil buatan Ki Ledjar. Berawal dari Sarah yang mengajarkan wayang kancil ke anak-anak, kini wayang kancil telah menjadi bagian dari kurikulum pendidikan SD di Inggris.

Mahasiswa ISI asal Jerman, Arno dan Yoken, membawa wayang kancil Ki Ledjar ke Kota Bremen dan Hamburg. Tingginya minat terhadap wayang kancil di Jerman akhirnya juga membawa Ki Ledjar tampil di Festival Indonesia Day di Jerman pada 2009. Setelah dari Belanda dan Jerman, Ki Ledjar pun mendapat tawaran tampil di Perancis.

Seorang peneliti dari Amerika Serikat juga memanfaatkan wayang kancil untuk penyampaian hasil penelitian tentang kerusakan lingkungan di Indonesia. Tak sebatas wayang kancil, cucu Ki Ledjar, Nanang Ananto Wicaksono, yang mahasiswa ISI turut memperkaya pertunjukan wayang dengan karya kontemporer yang mempertontonkan animasi wayang.

Source: Kompas


Hasil dari Google:


Baca juga:

Tentang Artikel Ini
Oleh on Mar 20th, 2010 pada kategori Tourism. Anda dapat berlangganan artikel melalui link berikut ini RSS 2.0. Anda dapat meninggalkan komentar melalui formulir berikut atau Pelacakan atas tema ini dari situs Anda

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (*)
E-mail (*)
URI
Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post