Home » Tourism » Mencicipi Pesona Wisata Keramik Plered

Mencicipi Pesona Wisata Keramik Plered

Plered sudah lama dikenal sebagai daerah penghasil keramik. Dari tempat ini, berbagai bentuk dan ukuran keramik dibuat. Ada yang kecil, sedang hingga besar dengan berbagai aneka desain.

Bila berkunjung langsung, selain bisa menyaksikan langsung pembuatan keramik, Anda juga bisa mendapatkan harga lebih murah. Ada yang dijual mulai dari Rp 5.000,- sampai ratusan ribu rupiah. Pot dengan model sederhana misalnya, hanya dijual Rp 5000,-, sementara pot ukuran sedang berbentuk buah-buahan hanya berkisar Rp 6.000,- sampai Rp 7.000,-.

Begitupun dengan celengan berbentuk hewan dan buah, hanya dijual seharga Rp 8.500,-.Untuk ukuran yang lebih besar, pot berbagai model hanya dijual dari kisaran Rp 25.000,- sampai Rp 35.000,-.

Beragam model guci juga tersedia di sini. Namun sayang, komoditi yang semestinya menjadi wisata altenatif ini kini sedang sepi. Sekedar diketahui, keramik yang dihasilkan Plered, biasanya dijual ke beberapa kota lain, termasuk Jakarta. Sebagian malah diekspor ke luar negeri.

Iyos, salah seorang penjual keramik mengaku penjualan akhir-akhir ini sepi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Penyebabnya antara lain karena banyaknya penjual keramik sejenis dan pengunjung rata-rata hanya mengunjungi toko-toko yang berjajar di pintu masuk Plered.

“Wah sekarang mah sepi, kalau dulu sering ada kunjungan anak sekolah, tapi sekarang udah banyak toko di depan, jadi mereka berhenti di sana, enggak sampai kemari,” kata dia, saat ditemui di tokonya.

“Sekarang juga kan musim ujan, jadi keringnya lama,” ucap wanita yang juga menerima pesanan keramik di tokonya ini.

Plered dapat ditempuh tak jauh dari Tol Jati Luhur. Sambil menyusuri toko-toko keramik di sana, Anda juga bisa sekalian melanjutkan perjalanan ke daerah Puncak Bogor, atau Kota Kembang Bandung. Bila Anda memiliki waktu luang, tidak ada ruginya menyempatkan waktu ke tempat ini. Tertarik ?

Sumber Kompas


Hasil dari Google:


Baca juga:

Tentang Artikel Ini
Oleh on Jan 2nd, 2010 pada kategori Tourism. Anda dapat berlangganan artikel melalui link berikut ini RSS 2.0. Anda dapat meninggalkan komentar melalui formulir berikut atau Pelacakan atas tema ini dari situs Anda

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (*)
E-mail (*)
URI
Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post