Jejak Mata Ternate
Menyebar dari utara hingga selatan, berada tepat di bibir pantai. Menempati titik-titik strategis, deretan benteng menjadi “mata” Ternate di masa silam.
Meski tak lagi menampilkan bentuk utuhnya, kumpulan benteng ini punya makna lebih dari sekadar peninggalan penjajah. Yaitu simbol perjuangan rakyat Ternate, sekaligus menyiratkan kejayaan bangsa Ternate lewat rempah-rempahnya yang menjadi magnet bagi bangsa Eropa untuk berdatangan.
Kehadiran Portugis ditandai antara lain lewat Benteng Gamlamo atau Benteng Santo Paolo Nostra Senora de Rosario yang terletak di selatan Ternate.
Berdiri tahun 1522, benteng yang kini lebih dikenal dengan nama Benteng Kastela itu menjadi monumen penting dalam sejarah pergolakan rakyat Ternate melawan penjajahan. Pasalnya, di sinilah Sultan Khairun dijebak dan dibunuh Portugis pada tahun 1570.
Sultan Khairun digantikan oleh Sultan Babullah, putranya, yang kemudian berhasil mengusir Portugis tahun 1575, yang menjadi kemenangan pertama pribumi di Nusantara melawan kekuatan Barat.
Ada pula reruntuhan Benteng Kota Janji yang letaknya berdekatan dengan Benteng Kalamata yang dibangun tahun 1609 untuk menghadapi serangan Spanyol yang bercokol di Tidore.
Yang tak kalah terkenal adalah Benteng Tolukko, dibangun Portugis tahun 1540, namun direstorasi oleh Belanda pada 1610. Terletak di bagian utara, kondisinya hingga kini lebih terawat dibandingkan yang lain. Arsitekturnya menyerupai bentuk lingga dan dulunya memiliki terowongan bawah tanah yang berhubungan langsung dengan laut.
Benteng terbesar di Ternate adalah Benteng Oranye yang merupakan benteng pertama Belanda (1607). Di sinilah pusat pemerintahan VOC, yang menyisakan beberapa meriam serta rumah yang dulu ditinggali Jan Pieter Zoon Coen dan kini dijadikan kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ternate.
Patut dicatat, sekitar 100 meter dari benteng ini terdapat rumah Alfred Russel Wallace yang tak lain murid Charles Darwin, sang pencetus teori evolusi. la melakukan penelitian flora dan fauna selama 3 tahun di Ternate.
Dengan segala peninggalan tersebut, maka wajar jika Ternate diganjar predikat “Kota Benteng”. Dan jika Anda berkesempatan datang ke sana, cobalah menelusuri berbagai peninggalan tersebut.
Source: Kompas
Artikel Terkait:
- Aceh Besar Galakkan Wisata Spiritual dan Keluarga (576 kali)
- Oposisi Malaysia Sidang di Bawah Pohon (845 kali)
- Walikota Buka Lomba Merangkai Janur Kuning SO 1 Maret (682 kali)
- Sail Bunaken, Momentum Kembalikan Citra Indonesia (842 kali)
- Jelang Ramadhan, Puluhan Ribu Peziarah Padati Wisata Banten Lama (1523 kali)
- Wisatawan Menyukai Andong dan Cidomo (553 kali)
- Ritual Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo Siap Digelar (1154 kali)
- Turis Senang, Tukang Becak Pun Senang (1336 kali)
- Hotel Ambarrukmo, Legenda yang Kembali Hidup (35 kali)
- Topo Bisu Mubeng Beteng 1 Suro (3241 kali)




No comments yet.