Denyut Malam di Prawirotaman
Lepas tengah malam di Prawirotaman. Ruas-ruas jalan mulai lengang. Di tengah keheningan dini hari, suara musik di salah satu bar justru makin menggelegar.
Lampu utama bar dipadamkan ketika seorang bartender menyalakan api di mulut yang penuh minuman beralkohol. Beberapa wisatawan asing yang menyaksikan pertunjukan itu tertawa terbahak-bahak.
Sempat menyalakan korek api, seorang pelancong urung membakar minuman beralkohol di mulutnya. Nyalinya tidak sebesar bartender yang segera meneguk minuman yang tengah menyala-nyala. Sambil tertawa dan menari diiringi musik reggae, hip hop, hingga R&B, api itu ditelannya.
Di sudut lain bar yang berukuran 20 meter x 10 meter itu, dua pelancong bermain billiard. Tak satu pun pengunjung menyaksikan film yang diputar di layar lebar. Sekitar empat pengunjung bar lain yang juga wisatawan asing memilih mengobrol di teras bar yang tak berjarak dengan aspal jalan raya.
Selain backpackers yang haus petualangan berkeliling dunia dengan biaya minimal, tak sedikit dari pelancong asing yang memilih Prawirotaman untuk mereguk kepuasan inderawi. Pelancong asal Australia, Berry, misalnya, tanpa malu-malu mengaku menyukai dunia malam di Yogyakarta untuk mencari penjaja seks komersial.
Tak heran, Berry dengan genitnya mencolek setiap perempuan yang mengajaknya ngobrol. Meski sudah berusia di atas 50 tahun, Berry selalu datang dan kembali ke Prawirotaman sejak sepuluh tahun terakhir. Perkenalan Berry dengan Yogyakarta dimulai tahun 1996. Sebelumnya, Berry melancong ke Bali. Yogyakarta lebih menarik hatinya karena segalanya tersedia dengan harga murah.
Ketika matahari mulai terbit dan petualangan Berry sejenak berakhir, jalan-jalan di Prawirotaman kembali dilalui backpackers yang bersiap menikmati petualangan baru dan keindahan alam dan budaya Yogyakarta. Backpacker asal Australia, Georgia Burns dan Shelley Burns, duduk bersantai di warung khas Jawa Timur di sudut Prawirotaman mencari sarapan.
Mereka memutuskan empat hari menjelajahi Yogyakarta yang baru pertama kali dikunjunginya. Mereka berencana mengelilingi sejumlah wilayah di Indonesia dalam tiga pekan. Demi menghemat pengeluaran, kakak beradik ini memilih penginapan murah dengan tarif tak lebih dari Rp 100.000 per malam.
Untuk makan, mereka menargetkan biaya Rp 36.000 per hari per orang. Georgia dan Shelley pun berencana melanjutkan perjalanan ke Jakarta dengan kereta api kelas ekonomi. “Indonesia sangat dekat dengan negara kami, kami berkunjung untuk mencicipi kekhasan sajian tradisional Jawa,” kata Georgia yang menyatakan akan kembali ke Yogyakarta.
Made, pemilik salah satu kafe di Prawirotaman, mengatakan, backpackers memang irit. Mereka biasa membelanjakan Rp 25.000-Rp 50.000 per malam. Saat ini, lebih dari 10 kafe berselera internasional hadir dan menghidupkan Prawirotaman. Juli-September yang menjadi masa liburan lebih menghidupkan malam-malam di Prawirotaman.
Source: Kompas
Artikel Terkait:
- Yogyakarta Surga bagi ‘Backpackers’ (869 kali)
- Pusat Kuliner 24 Jam (1084 kali)
- Penghapusan Tuslah (1668 kali)
- Pengemudi Becak DIY Terima Buku Panduan (676 kali)
- Serba Stroberi di Strawberry Cafe (1439 kali)
- Butuh Penginapan di Jogja? Masih Ada Kamar Hotel Melati Kok.. (7389 kali)
- Turis Antusias Menonton Pawai Takbiran (400 kali)
- Gebyar Budaya Nusantara Meriahkan Malam di Tamansari (931 kali)
- Jumlah Wisman ke Bali Hampir Sejuta (810 kali)
- Pentas Klangenan Jogja (751 kali)




No comments yet.