Wisatawan Asing Saksikan Tradisi Laluhan
Wisatawan asing yang berkunjung ke Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, menyaksikan acara adat Laluhan, salah satu tradisi masyarakat Dayak Ngaju yang saat ini masih dilestarikan.
“Tradisi Laluhan sangat menarik bagi saya,” kata Harrin, wisatawan dari Australia yang berkunjung ke Kapuas untuk melihat tradisi tersebut, di Kuala Kapuas, Sabtu (21/3).
Tradisi Laluhan dapat menjadi daya tarik wisatawan asing untuk berkunjung ke Kabupaten Kapuas sehingga dapat mendongkrak pendapatan asli daerah.
Harrin juga berjanji akan ikut mempromosikan tradisi ini kepada warga Australia yang ada di negaranya agar mau berkunjung untuk menyaksikan tradisi yang hanya dapat dilihat setahun sekali ini.
Tidak saja wisatawan asing yang terkesan dengan tradisi tersebut, sejumlah warga datang dari berbagai daerah termasuk Banjarmasin, Kalimantan Selatan yang menyaksikan kegiatan tersebut juga terkesan.
Terlihat juga sejumlah warga dari Banjarmasin yang tergabung dalam perkumpulan radio amatir juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang ditonton oleh ribuan warga dari berbagai daerah serta diliput oleh berbagai media cetak dan elektronik baik daerah maupun nasional.
Acara Laluhan tahun ini terlihat berbeda dengan tahun sebelumnya karena selain menggunakan batang Suli, tumbuhan yang hidup dipinggiran sungai mirip seperti batang Lengkuas, tradisi ini juga menggunakan siraman air yang disemprotkan dari alat yang terbuat dari batang bambu kecil.
Bupati Kapuas Muhammad Mawardi beserta unsur muspida terlihat ikut dalam acara adat yang sudah menjadi agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Kapuas dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kota Kuala Kapuas ke-204 dan Hari Ulang Tahun Pemerintah Kabupaten Kapuas ke-59.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kapuas Edy Lukman Hakim kepada pers di Kuala Kapuas mengatakan acara adat Laluhan tahun ini memang sengaja diubah karena Laluhan itu mencerminkan suatu kegembiraan masyarakat lantaran terhindar dari marabahaya.
“Kami ingin menonjolkan acara adat Laluhan ini ebagai suatu bentuk ekspresi kegembiraan, mengasihi dan saling mencintai,” kata Edy Lukman Hakim.
Sementara itu, tokoh adat Dayak Nngaju, Angie Rohan mengatakan Laluhan berasal dari kata Laluh yang artinya pemberian.
Laluh diantar dengan menggunakan rakit atau angkutan air lainnya yang dimaksud sebagai ungkapan rasa kebersamaan atau gotong royong untuk mengurangi beban keluarga yang menyelenggarakan upacara Tiwah dan dibayar pada saat pemberian menyelenggarakan Tiwah tersebut.
Laluhan terbagi dalam tiga jenis yakni Laluhan pada upacara Tiwah, Laluhan pada upacara penyambutan kemenangan, pada waktu pulang dalam kemenangan berperang melawan musuh serta Laluhan sebagai tradisi suku Dayak menyambut kemenangan melawan beribu-ribu macam penyakit yang menimpa masyarakat kampung dan kota.
Source: Inilah
Artikel Terkait:
- Gunung Kidul Gelar 150 Pesta Adat (793 kali)
- Yuk, Lihat Seni Ukir di Festival Budaya Asmat (255 kali)
- Ritual Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo Siap Digelar (1154 kali)
- “Sedekah Punthuk Setumbu”, Daya Tarik di Borobudur Selain Candi (1928 kali)
- Pesona Wisata dan Budaya Malinau (1034 kali)
- Tahun Depan, Giliran Wakatobi (712 kali)
- Banyuwangi Garap Ekowisata (450 kali)
- Pesona Ritual Labuhan di Pantai Congot (695 kali)
- Goa Lawah Ramai Dikunjungi Wisatawan Domestik (320 kali)
- Ingin Tahu Tempat Resmi untuk Bugil? (213 kali)




No comments yet.