Pemkab Blora Canangkan Desa Wisata
Pemerintah Kabupaten Blora mencanangkan gerakan mengembangkan desa wisata dan menghijaukan Blora. Sebagai model percontohan, pemerintah menerapkan gerakan itu di Desa Tempuran, Kecamatan Tempuran, yang memiliki kawasan kuliner, memancing, dan waterboom mini.
Gerakan yang dipromotori Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga, (DKPPO) Kabupaten Blora, itu dimulai dengan bersepeda bersama dari Kantor Bupati Blora menuju Waduk Tempuran sejauh sekitar 15 kilometer, Jumat (6/11) pagi . Kegiatan itu diikuti 1.000 pesepeda termasuk di antaranya Bupati Blora Yudhi Sancoyo dan Ketua DPRD Blora Maulana Kusnanto.
Sesampai di Waduk Tempuran, kegiatan dilanjutkan dengan gerakan penghijauan. Sebagai simbolisasi penghijauan, Yudhi Sancoyo dan Kusnanto menanam pohon jati di bukit di atas Waduk Tempuran, tepat di depan obyek wisata Kampung Bluron.
Kepala D KPPO Kabupaten Blora Pudiyatmo mengatakan Desa Tempuran merupakan model percontohan desa wisata di Kabupaten Blora. Desa itu mempunyai aneka potensi wisata, seperti Waduk Tempuran, persawahan, hutan jati rakyat, Kampung Bluron, dan Café Tempuran. “Selain itu, di desa itu tumbuh beragam potensi budaya, seperti tayub, barongan, dan kethoprak,” kata dia.
Menurut Pudiyatmo, pada tahun-tahun berikutnya, pemerintah akan mengembangkan empat desa wisata lain, yaitu Desa Temengeng, Greneng, Temanjang, dan Wulung yang terkenal dengan hutan kotanya.
Desa-desa itu harus memiliki sejumlah persyaratan, antara lain mempunyai obyek wisata, produk makanan unggulan, seni dan budaya lokal, dan menjadi tempat wisata berskala kecil atau lokal. Selain itu, kawasan itu merupakan titik temu atau terhubung dengan wilayah-wilayah di sekitarnya.
“Kami juga berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi, untuk mengembangkan jajanan lokal khas desa-desa wisata yang digarap industri rumah tangga,” kata Pudiyatmo.
Bupati Blora Yudhi Sancoyo mengemukakan sejak lima tahun lalu, kawasan Desa Tempuran sangat memprihatinkan. Setiap musim kemarau, waduk mengering, sehingga masyarakat dan lahan pertanian kekurangan air.
Penyebabnya adalah semakin berkurangnya pohon-pohon yang berada di bukit-bukit sekitar Waduk dan Desa Tempuran. Untuk itu, pemerintah bersama masyar akat berupaya mengembalikan keindahan Desa Tempuran.
“Dalam tempo dekat, Desa Wisata Tempuran sudah dikembangkan. Berikutnya, adalah gerakan hijau untuk memulihkan air waduk yang mengering setiap musim kemarau,” kata Yudhi.
Sumber Kompas
Hasil dari Google:
Baca juga:
- Sleman, Desa Wisata Nomor 1 di Yogyakarta (1944 kali)
- Semakin Mudah Menuju Wakatobi (75 kali)
- 2010, Depbudpar Bangun 200 Desa Wisata (1347 kali)
- 16 Desa Ikuti Festival Desa Wisata Sleman (1405 kali)
- Yogyakarta Memiliki Kekayaan Desa Budaya (191 kali)
















No comments yet.