Pariwisata Tak Terkendali Ancam Pertanian di Bali
Seorang guru besar di Universitas Udayana mengemukakan, perkembangan pariwisata yang pesat dan tidak terkendali di Bali, dikhawatirkan membahayakan kesinambungan pembangunan sektor pertanian di daerah ini.
Pariwisata yang berkembang pesat dikhawatirkan mencaplok lahan pertanian untuk kepentingan fasilitas pariwisata.
Pariwisata yang berkembang pesat dikhawatirkan bisa mencaplok lahan pertanian
untuk kepentingan fasilitas pariwisata,” kata guru besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana Prof Dr I Wayan Windia, MS di Denpasar, Senin (8/2/2010).
Ia mengatakan, kekhawatiran lain bisa menimbulkan kompetisi pemanfaatan air minum dan irigasi maupun penarikan sumber daya manusia dari pertanian ke pariwisata.
“Namun, penarikan sumber daya manusia untuk bisa diserap dalam sektor pariwisata merupakan hal yang sangat positif, karena akan mampu mengurangi beban tenaga kerja di sektor pertanian, yang selama ini dinilai kurang menjanjikan terhadap masa depan,” ujar Prof Windia.
Ia mengingatkan, untuk itu sektor pertanian perlu dikemas sedemikian rupa agar mempunyai daya tarik bagi pemuda dan sanggup menjanjikan masa cepan yang cerah, tidak kalah dengan mereka yang bekerja di sektor pariwisata.
“Hal lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana sektor pertanian itu mampu berperan dalam meningkatkan perekonomian Bali,” ujar Windia.
Untuk itu perlu dilakukan revitalisasi dalam pembangunan bidang pertanian, yakni membangkitkan sektor pertanian dari kebangkrutan seperti sekarang ini menjadi eksis, sekaligus menjaga kesinambungan pembangunan bidang pertanian di Pulau Dewata.
Hal itu sangat penting, mengingat dalam aktivitas pertanian melekat kegiatan budaya dan aspek sosial kelembagaan. Membangun sektor pertanian Bali akan mampu mewujudkan pemerataan pertumbuhan ekonomi, karena 30 persen penduduk Bali bekerja di sektor pertanian.
“Selain itu tidak ada kompetisi pembangunan yang saling mematikan antarsektor di Bali. Hal itu penting disadari oleh semua pihak, karena rencana pembangunan jangka panjang telah diatur dalam rencana umum tata ruang wilayah Bali yang sepadan,” ujar Windia.
Sumber Kompas
Artikel Terkait:
- Belajar Industri Pariwisata dari Negeri Jiran (437 kali)
- Menuju NTT Melalui Bali (438 kali)
- Pasar Wisatawan Brunei dan Sarawak Belum Tergarap (150 kali)
- Bali Rintis Obyek Wisata Kopi Ramah Lingkungan (148 kali)
- Ada “Baywatch” di Gunung Kidul (334 kali)
- Pariwisata Indonesia Berpotensi Raup 10 Miliar Dollar (530 kali)
- Turis Jerman ke Bali Naik 21 Persen (359 kali)
- Wisata Sambil Belajar di Ladang Gandum (731 kali)
- Kalla: Majukan Pariwisata, Contoh Singapura! (263 kali)
- Ajang Pasar Wisata Indonesia Targetkan 300 “Buyers” Asing (554 kali)






No comments yet.