Home » News, Tourism » Masjid Plosokuning, Pathok Nagara yang Masih Perlu Digali Kisahnya…

Masjid Plosokuning, Pathok Nagara yang Masih Perlu Digali Kisahnya…

Dari empat mesjid pathok nagara di DI Yogyakarta, hanya mesjid di Plosokuning, Minomartani, Sleman yang bisa dibilang paling utuh dan asri. Kolam ikan yang melingkari bagian depan mesjid serta pohon sawo kecik yang berumur 200-an tahun, menjadi penandanya.

Tembok tebal melingkari kompleks seluas 2.500 meter persegi ini. Menengok ke dalam mesjid yang atapnya berkonsep tumpangsari tersebut, maka mesjid ini makin terlihat istimewa. Salah satunya, karena kayu-kayu penyangga atap dan serambi, 75 persen masih asli.

Kayu-kayu di mesjid yang bangunan utamanya berdiri tahun 1827 ini kokoh karena dari jati tua. Yang unik lagi, kayu-kayu dalam mesjid adalah penyangga atap, sehingga tembok bata hanya berfungsi sebagai tembok. Kalau tembok roboh, masjid tetap berdiri. Seolah sudah diramalkan, jika mesjid ini dilanda gempa, maka bangunan ini akan tetap kokoh berdiri. “Bangunan ini memakai kayu jati tua, menandakan mesjid ini dibikin untuk jangka panjang,” ujar M Kamaludin Purnomo, takmir masjid tersebut.

Masjid pathok nagara, selain di Minomartani, ada di Dongkelan (Bantul), Babadan Berbah (Sleman), dan Mlangi (Sleman). Sebagai salah satu masjid pathok nagara, keempatnya menjadi pagar pertahanan kraton di empat arah penjuru mata angin. Bukan semata pagar pertahanan fisik, melainkan pertahanan spiritual.

Kata pathok sendiri berasal dari bahasa Arab fatwuh, yang diartikan sebagai orang yang bertugas memberi fatwa agama. Ulama-ulama dari sini, dulu, sering dimintai nasihat tentang banyak hal oleh keraton, maupun oleh warga. Mulai dari urusan kenegaraan, agama, sampai urusan mengatasi kasus selingkuh dan perselisihan. “Mesjid ini pun tempat penggodokan orang untuk mendapat ilmu agama,” katanya.

Sejarah mesjid ini, menurut Kamaludin, sudah banyak diulas. Puluhan bahkan ratusan skripsi, tesis, dan penelitian mahasiswa sudah terpapar. Namun belum banyak yang sampai detail menyentuh sisi-sisi belakang layar. Padahal, sisi-sisi tersebut menarik dan bisa menjadi sebuah refkleksi bersama. Beranjak dari itu, warga setempat sedang mengonsep sebuah buku, dan melibatkan banyak orang untuk sebagai narasumbernya.

Banyak yang belum tergali di sini. Misalnya, pohon sawo kecik memang bermakna agar semua berjalan becik (baik), namun apa hasilnya terkait kehidupan masyarakat? “Dulu pernah ada pasar di dekat mesjid, tapi setelah tahun 1950, pasar tersebut tutup. Mengapa tutup, apa fungsi pasar itu dulu, dan apa yang terjadi pascatutupnya pasar, saya rasa belum pernah dikupas,” ucap Kamaludin.

Selain itu, perlu dicari pula apa fungsi kolam itu bagi warga dan bagaimana interaksi warga muslim dengan nonmuslim. Mumpung masih ada beberapa sesepuh kampung yang hidup, Kamaludin yakin sebagian pertanyaan itu bisa mendapatkan jawabnya. Kehadiran buku itu nantinya, akan melengkapi literatur yang ada.

“Tak hanya semata bangunan fisiknya, namun nilai historis-budaya yang menjadi kekhasan masjid ini. Barangkali karena hal itu pula, beberapa waktu lagi, masjid ini akan dijadikan salah satu lokasi syuting film layar lebar,” ujar dia.

Kamaludin berharap, masjid pathok nagara di Plosokuning terus menjadi sumber inspirasi untuk digali sejarah dan filosofinya. Masjid jangan sampai berhenti hanya sebatas museum sejarah tapi terus memberi inspirasi pada siapa saja.


Artikel Terkait:

Tentang Artikel Ini
Oleh on Sep 3rd, 2009 pada kategori News, Tourism. Anda dapat berlangganan artikel melalui link berikut ini RSS 2.0. Anda dapat meninggalkan komentar melalui formulir berikut atau Pelacakan atas tema ini dari situs Anda

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (*)
E-mail (*)
URI
Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post