Liburan di Bali, Ampun Deh Sesaknya
Pulau Bali yang eksotik masih menjadi tujuan wisata setiap kali musim libur tiba. Begitu pula pada musim libur sekolah tahun ini. Ribuan wisatawan domestik dari segala penjuru Nusantara tumpah ruah di sana. Akibatnya, sejumlah destinasi wisata di Pulau Dewata itu penuh sesak. Di sejumlah tempat bahkan begitu padatnya sampai untuk bergerak pun susah.
Pemantauan Kompas.com, Selasa (30/6), kawasan sekitar Pantai Kuta dipenuhi oleh rombongan wisatawan dari berbagai kota. Mereka umumnya datang menggunakan bus-bus besar dengan mengatasnamakan sekolah, organisasi, perusahaan, sampai kelompok arisan.
Dari pengumuman lewat pusat informasi, diketahui mereka berasal dari berbagai kota di Jawa, seperti Surabaya, Lamongan, Sidoarjo, Madiun, Solo, Yogyakarta, Klaten, Purworejo, Bandung, Cirebon, Sumedang, dan Jakarta yang paling banyak. Bahkan, ada juga rombongan dari Banjarmasin.
Seorang pemandu wisata lokal, I Wayan Sukadana, menyatakan, situasi seperti ini terjadi sejak awal Juni dan akan berlangsung sampai akhir Juli. “Ini belum seberapa. Pekan depan diperkirakan Bali akan makin padat,” katanya.
Menurut dia, pada masa puncak musim liburan, lalu lintas di sekitar obyek wisata utama, khususnya yang mengarah ke Pantai Kuta, bisa sama sekali tak bergerak.
Banyaknya wisatawan membuat hampir semua hotel di Bali tak lagi bisa menerima tamu yang datang tanpa pemesanan lebih awal. Bahkan, salah satu rombongan dari Jakarta yang datang lewat biro perjalanan pun harus mau tidur berdesak-desakan di satu kamar. Sebuah kamar suite di sebuah hotel di Kota Denpasar terpaksa disulap menjadi barak penampungan dengan kasur-kasur tambahan untuk 14 orang.
Transportasi merupakan persoalan lain di Bali saat musim liburan seperti ini, khususnya di Kuta. Sebab, semua bus harus diparkir di sentra parkir yang jaraknya sekitar 2 km dari pantai. Dari tempat parkir ini, pemandu wisata umumnya mengarahkan rombongannya ke Joger, sebuah gerai yang terkenal dengan sebutan pabrik kata-kata. Beragam kaus dan sandal dengan tulisaan lucu-lucu dijual di sini, seperti Dagadu di Yogya.
Karena semua rombongan di arahkan ke satu gerai yang tak begitu besar itu, kepadatan di dalam toko pun tak terhindarkan. Di dalam toko yang sempit itu, untuk bergerak pun susahnya setengah mati. Apalagi, pengunjung umumnya berlama-lama memilih barang sehingga suasana di dalam toko benar-benar padat. Akibatnya, banyak pengunjung, umumnya orangtua, memilih menunggu di luar atau berjalan-jalan di sejumlah toko di sekitarnya.
Dari Joger, hampir semua pengunjung akan menuju Pantai Kuta untuk menikmati pemandangan elok menjelang matahari terbenam. Untuk menuju pantai, pengunjung harus mau berdesak-desakan dan diperlakukan tak manusiawi oleh calo angkutan.
Selain harus berdesakan, 25 orang di dalam minibus Isuzu warna biru, pengunjung yang di kotanya mungkin orang-orang terhormat itu harus rela dibentak-bentak oleh calo berpenampilan dekil.
Persoalan angkutan makin parah selepas matahari terbenam ketika puluhan ribu orang keluar bersama dari kawasan pantai menuju sentra parkir. Perlakuan semena-mena awak angkutan harus kembali diterima.
Wisatawan yang tak mau susah memang bisa naik taksi, tetapi sopir taksi juga seenaknya menentukan tarif. Hitungannya bukan lagi jarak yang hanya 2 km, melainkan berapa penumpang yang diangkut. Satu orang harus bayar Rp 20.000.
Sumber Kompas
Baca juga:
- Musim Libur Belum Tiba, Bali Sudah Macet (1095 kali)
- Serbuan Sampah di Kuta sampai Mei (487 kali)
- Musim Liburan, Penginapan di Kuta dan Legian Penuh (1553 kali)
- Wisata Kilat Saat Transit di Bali (111 kali)
- Pengunjung Tempat Wisata Tahun Ini Lebih Banyak (804 kali)
















No comments yet.