Cuaca ekstrem telan korban
Cuaca ekstrem di DIY kembali merenggut jiwa. Setelah sebelumnya, tiga warga Gunungkidul meninggal akibat tersambar petir, kali ini warga Bantul mengalami hal serupa. Sarjito, 44, warga RT 08, Mbenjeng, Bantul, tewas akibat tersambar petir saat memanen padi, pukul 13.45 WIB, Jumat (19/3).
Sebelum menghembuskan napas terakhirnya korban sempat mendapatkan perawatan di RS. Dari informasi yang didapatkan di lapangan, peristiwa berawal saat korban bersama beberapa rekannya memanen padi. “Saat kejadian kondisi langit memang berawan, namun hujan tidak turun serta di beberapa wilayah masih terdapat sinar matahari.
Tiba-tiba terdengar ledakan keras yang menghantam tanah dan kami semua tiarap takut terjadi apa-apa,” jelas Sagino, 44, saksi mata yang juga rekan korban saat ditemui di RS PKU Muhammadiyah. Sesaat kemudian, rekan-rekan korban mendapati Sarjito sudah terkapar tidak berdaya.
Mengetahui terkena sambaran petir, lantas dibawa ke PKU untuk mendapatkan perawatan. Korban menderita luka bakar parah di bagian dada serta beberapa bagian tubuh lainnya. Dokter menyatakan korban tidak tertolong lagi
setelah beberapa saat mendapatkan perawatan.
“Saya tidak menyangka jika petir keras yang terdengar tadi menyambar kakak kandung saya. Selain mengalami luka bakar parah, baju yang dikenakan olehnya juga terbakar,” jelas Yuni Samsuri, adik kandung korban yang juga anggota di Polsek Bantul. Adapun, Kapolsek Bantul, AKP Sukadi menjelaskan kasus tersebut adalah kecelakaan murni.
“Pihak keluarga sudah merelakan kepergian korban dan direncanakan hari ini [kemarin] akan segera dibawa pulang untuk kemudian dimakamkam,” jelasnya. Talut ambrol Di Piyungan, satu rumah terkena longsoran dari pecahnya talut di RT02, Pedukuhan Mojosari, Desa Srimartani, Kamis (18/3) malam, sekitar pukul 20.15.
Tidak ada korban jiwa pada kejadian tersebut. Sekretaris Kecamatan Kurniantara mengatakan kejadian tersebut berawal dari hujan deras sejak sore hari, yang kemudian membuat talut setinggi 5 meter yang berada 2 meter di belakangnya ambrol. Pemilik rumah adalah Solikhin (40) yang tinggal bersama 5 orang anaknya.
Kurniantara mengatakan penghuni sempat menyelamatkan diri keluar, sementara rumah masih tegak berdiri. Adapun listrik sudah padam sejak sebelum longsor. Meski hanya sebagian belakang rumah yang terkena, longsor tersebut cukup membahayakan.
Lingkungan permukiman tersebut cukup padat, meski berada di perbukitan. “Memang daerah yang agak padat,” kata dia . Kurniantara mengatakan pada 2008, pada lokasi talut yang berdekatan pernah terjadi longsor, dan kemudian dibangun lagi. Menurutnya, jenis tanah yang ditalut terbilang gembur dan mudah longsor.
Source: HarJo
Baca juga:
- Terperosok, Pendaki Merapi Asal Jogja Patah Tulang (113 kali)
- Tidak Ada Wisman Jadi Korban Bencana (598 kali)
- Data 13 Korban Tewas akibat Kecelakaan di Puncak (129 kali)
- Pencarian Korban Sukhoi Harus Sampai Tuntas (34 kali)
- Cerita Tragis Tabrakan Beruntun Cisarua (137 kali)
















No comments yet.