Kelompok Art Liberation Front Pameran di Galeri Biasa Suryodiningratan Yogyakarta
Belasan karya seni rupa yang diciptakan seniman-seniman kelompok Art Liberation Front dipamerkan di Galeri Biasa, Jalan Suryodinigratan 108 Yogyakarta sejak 17 hingga 23 Maret 2010 mendatang. Kelompok ini hadir dengan poster pameran yang berisi gambar ke-13 senimannya yang menggunakan busana jawa lengkap.
Kelompok Art Liberation Front ini beranggotakan seniman Yogyakarta serta daerah sekitarnya dan baru saja membentuk diri mereka sebagai sebuah kelompok seniman.yang terdiri dari Agus YK Priyono, Budi “Bodhonk” Prakoso, Dhadang SB, Daniel Rudi Haryono, Johny Chandra, Maria Indria Sari, Priyaris Munandar, R.Tri Sasongko, Romo Sapto Raharjo, Sindhu Cuter, Tri Suharyanto, Uret Pariono dan Yustoni Volunteero.
Mereka hendak kembali pada semangat kesenian yang murni dan kembali kepada esensi berkesenian. Mereka berusaha kembali ke akar eksistensi seorang seniman yakni dalam bentuk karya dan pertanggungjawabannya kepada publik.
Menurut Anton Larenz, kurator pameran ini yang juga intens berhubungan dengan kelompok Art Liberation Front selama persiapan pameran mereka, tujuan kelompok ini yang paling penting adalah kebebasan berekspresi.
“Seniman Jawa pada kelompok ini sebagai salah satu kesenimannya, terletak pada pluralisme karya mereka yang menjadi karakter budaya Jawa. Kesadaran kelompok ini disebabkan telah berhasilnya kelompok Sakato yang berangggotakan seniman dari Sumatera Barat serta kelompok Sanggar Dewata Indonesia (SDI) dari Bali mengembangkan kekuatan identitias berseni rupa mereka diantara anggota kelompok mereka di Yogyakarta,” katanya di Galeri Biasa, Sabtu (20/3)
Anton berpendapat mereka menjelaskan konteks pengembangan kekuatan identitas untuk seniman Jawa itu yang belum terlihat. Dengan demikian, pluralisme karya kelompok ini, menirukan keinginan kelompok ini, ada harapan pameran mereka kali ini akan memicu diskusi tentang isu-isu yang hadir pada karya visual mereka.
R Tri Sasongko misalnya menghadirkan desain batik dan tokoh mitologi Jawa. Seniman kelahiran 12 Juli 1977 ini memilih Semar sebagai obyek lukisan dimana secara kodrat Illahi, ia adalah wali Jawa yang bijaksana dan pintar. Semar adalah mediator satu-satunya ketika prinsip-prinsip harmoni dan keseimbangan yang menjadi filosofi Jawa bertabrakan dengan kekuatan yang berlawanan. ”Ditambah dengan nuansa humor dan kesantaian dalam karyanya, karya Tri Sasongko mengacu pada tradisi Jawa terbaik,” ujar Anton.
Anton menjelaskan lebih lanjut seperti Uret Pati Ono dengan karyanya berjudul Manjing Terusing Batos yang berarti berada jauh di dalam hati, nampak berusaha menghadirkan budaya orang Jawa yang selalu rindu dengan kampung halamannya sebagai salah satu isi dari pluralisme karya seniman yang Jawa.
“Danang SB menghadirkan simbol-simbol tradisionalitas masyarakat Jawa dalam kelompok status yang saling berlawanan. Status-status itu misalnya dilambangkan dengan alat-alat produksi petani, seperti sabit, dan cangkul,” kata Anton
Sementara Maria Indriasari, satu-satunya seniman wanita dalam kelompok ini menghadirkan pluralisme karakter Jawa dalam bentuk kehidupan rumah tangga, dimana menurut pandangan Jawa, kehidupan rumah tangga selalu identik dengan wanita meskipun laki-laki juga dirumah. Maria menghadirkan instalasi tiga dimensi berupa boneka dari kain yang digabungkan dengan kolase yang mewakili rumah atau dapur berupa panci maupun mangkuk yang ditampilkan sebagai kepala boneka.
Source: KRjogja
Hasil dari Google:
- agus yk priyono, kelompok art, front art liberation, galeri biasa jogja, galeri biasa jopgja, tri sasongko isi yogyakarta
Baca juga:
- Seniman Tua Yogyakarta Gelar Pameran Lukisan (926 kali)
- 69 Karya Seni Rupa Kenang HB IX (94 kali)
- Tiga Perupa ISI Gelar Pameran di BBY (188 kali)
- Pameran Komik Strip Benny and Mice Expo Segera Digelar di BBY (1139 kali)
- Mei, Pameran Akbar Wedding di Yogya (259 kali)
















No comments yet.