Gethok Tular Sejarah Mataram Melalui Pameran Fotografi
Lebih dari 100 foto dipamerkan siswa SMU 3 Yogyakarta yang tergabung dalam Tim Padmanaba Hiking Club (PHC) dan klub fotografi, dalam pameran bertajuk Patilasan Bumi Mataram di Benteng Vredeburg Yogyakarta. Pameran fotografi yang ingin mengangkat nilai sejarah bumi Mataram ini lebih mengunggulkan nilai historis daripada estetika yang diselenggarakan sejak 4 hingga 8 April 2010.
“Sebelum digelarnya pameran ini, kami terlebih dahulu mengumpulkan data kepustakaan sejak Januari 2010 dan mulai Februari hingga Maret dilakukan ekspedisi hingga akhirnya pameran ini bisa digelar,” ujar Ketua Pameran Patilasan Bumi Mataram, Asti Kusuma saat ditemui di Benteng Vredeburg, Senin (5/4).
Asti mengatakan kurang lebih 30 orang yang terlibat dalam proses pengambilan foto yang semuanya masih minim pengetahun tetang teknik fotografi karena unsur estetika tidak begitu ditonjolkan dalam pameran ini. Pameran ini lebih menonjolkan kebudayaan mataram yang hingga kini masih nampak tersisa dalam bangunan, adat istiadat, permainan tradisional meskipun hampir punah.
“Belajar dari kebudayaan Mataram Kuno yang masyarakatnya kreatif dan inovatif hingga sekarang masih tersisa nilai historisnya, itulah yang sengaja kita gali dan direpresentasikan melalui karya foto,” ujar Asti.
Dari ratusan karya foto yang ada kemudian diseleksi panitia yang dibantu alumni SMU 3 Yogyakarta, akhirnya hanya terpilih 104 foto yang dipamerkan. “Foto-foto tersebut seolah-olah merepresentasikan bahwa budaya Mataram itu tidak terbatas, hingga kami merasa masih ada kekurangan dan ingin menggali lebih dalam lagi mengenai seluk beluk bumi Mataram tidak hanya asal muasalnya semata,” katanya.
Selama proses pengumpulan foto dan data, para peserta pameran juga mendapat ilmu langsung dari narasumber baik itu sejarahwan, budayawan maupun masyarakat sekitar tidak hanya mendapat pengetahuan dari sekolah saja.
“Sasaran pameran ini lebih ke anak muda untuk mengenalkan asal muasal dan gethok tular sejarah Mataram agar tidak hilang identitas budaya mereka suatu saat nanti,” tandasnya.
Asti mengatakan harapan pameran yang masih sederhana dan baru pertama kali diadakan oleh SMU 3 Yogyakarta ini dapat menjadi salah satu sarana pengenalan sejarah nenek moyang kepada generasi penerus. Agar mereka benar-benar mengetahui betapa agungnya budaya yang diciptakan dan diwariskan sehingga generasi muda lebih menghargai tanah leluhurnya masing-masing.
Source: KRjogja
Artikel Terkait:
- Pameran Salon Foto Indonesia di Solo (1297 kali)
- Meriahkan Sekaten, Kraton Yogyakarta Gelar Pameran (1409 kali)
- Peringati Hari Bumi Melalui Motif Batik (888 kali)
- Lomba Foto Pariwisata 2009 (1003 kali)
- Wisatawan Menyukai Andong dan Cidomo (554 kali)
- Aceh Besar Galakkan Wisata Spiritual dan Keluarga (577 kali)
- Dibuka, Lombok Sumbawa Pearl Festival! (438 kali)
- Indonesia Ikut Pameran Wisata di Praha (646 kali)
- Lima Gelaran Pariwisata di Sumatera Barat (1073 kali)
- Museum di Tengah Keramaian Pasar (303 kali)




No comments yet.