Pusat Kuliner 24 Jam
Berbagai jenis makanan khas Palembang, seperti pempek, tekwan, martabak, dan model, mudah ditemukan di seluruh penjuru kota pada siang hari. Namun, penjual makanan khas Palembang yang nikmat tersebut sulit ditemukan, terutama setelah larut malam.
Bagi warga Palembang yang suka nongkrong pada malam hari atau melakukan aktivitas pada malam hari, pilihannya adalah mengunjungi warung-warung kopi di Pasar Kuto, Palembang.
Di warung-warung kopi itu tersedia berbagai jenis makanan dan minuman yang siap disajikan selama 24 jam. Jenis makanan kecil yang tersedia antara lain kue kumbu kacang merah, ketan kuning, kue lumpang, kue suri, talam ubi, pisang goreng, kue bolu, otak-otak, dan sate kerang. Untuk menghangatkan badan pada malam hari, minuman teh susu harus dicoba.
Pengunjung yang mencari makanan mengenyangkan bisa pesan sate ayam, martabak telur, pempek, model, atau tekwan. Khusus pada pagi hari, tersedia menu sarapan khas Palembang, seperti burgo dan nasi minyak.
Tempat ”nongkrong”
Janu, warga Lemabang, mengatakan seminggu sekali selalu mengunjungi warung kopi di Pasar Kuto. Alasannya, berbagai jenis makanan tradisional yang disajikan di warung kopi itu tidak tersajikan di tempat makan lainnya di Kota Palembang
”Saya suka datang ke sini karena ada banyak makanan tradisional. Makanan favorit saya kue kumbu yang terbuat dari kacang merah,” kata Janu.
Handriyadi, salah satu pelanggan warung kopi Pasar Kuto, menuturkan, pada sore hari dia sering mengunjungi warung di Pasar Kuto untuk istirahat sejenak sambil menyeruput kopi dan menikmati makanan kecil. Sehabis menikmati makanan dan minuman, Handriyadi kembali bekerja di kantornya di Jalan Jenderal Sudirman.
Pilihan itu dilakukan Handriyadi karena tidak ada tempat lain yang cocok untuk santai pada sore hari di Palembang. Aneka jenis makanan tradisional yang dijual membuat Handriyadi selalu kembali ke warung kopi Pasar Kuto.
Fikri, seorang karyawan di salah satu warung kopi, mengatakan, warung kopi di Pasar Kuto sudah ada sejak tahun 1970-an. Pengunjung ramai pada siang hari, sedangkan pada malam hari tidak terlalu ramai, tapi selalu ada pengunjung.
”Pelanggan kami orang yang senang begadang, atau orang yang pulang dari berolahraga, lalu mampir ke sini sebelum kembali ke rumahnya,” ujarnya.
Fikri mengutarakan, untuk melayani pengunjung yang terus berdatangan selama 24 jam, mereka membagi dua giliran waktu kerja, yakni siang dan malam.
Sebagian makanan dimasak langsung di warung kopi tersebut, sedangkan makanan kecil diantarkan oleh para pemasok. Mereka membawa makanan dalam baki plastik, lalu diletakkan di warung kopi. Pengunjung bisa memilih sendiri.
Source: Kompas
Artikel Terkait:
- Kota 1001 Warung Kopi, Ikon Baru Pariwisata Manggar (431 kali)
- Penghapusan Tuslah (616 kali)
- Rumah Kuliner Bandung Segera Dibuka (502 kali)
- Java Promo Gelar Festival Kuliner Daerah (332 kali)
- Blok M Akan Jadi Pusat Wisata Kuliner (629 kali)
- Eranya Makanan Rumah (133 kali)
- Yuk, Tahun Baru di Lereng Merapi (955 kali)
- Penganan Khas Kaltim Laris Manis di Belanda (146 kali)
- Pesta Ikan di Palangkaraya…Nyam…Nyam…Nyam… (565 kali)
- Denyut Malam di Prawirotaman (108 kali)






No comments yet.