Home » Food Story » Aroma Kampung dan Racikan Bumbu Khas Desa

Aroma Kampung dan Racikan Bumbu Khas Desa

Kisah perjalanan para pendiri rumah makan bakmi jawa di Jakarta merupakan cerita tersendiri. Mereka umumnya perantau yang memanfaatkan keahlian memasak sebagai modal untuk mendapatkan pemasukan. Rupanya, masakan bakmi karya perantau itu menjadi pelepas rindu akan kampung halaman bagi para perantau lain yang juga berjibaku di Jakarta.

Salah satunya, rumah makan Bumen Jaya yang dirintis Mohammad Anwar Sanusi. ”Bapak memulai usaha dengan bakmi pikulan yang dibawa keliling kampung sekitar tahun 1950. Dulu, daerah Pejompongan belum seramai sekarang,” ucap Yani, anak Anwar.

Anwar memulai usaha dengan mencari racikan bumbu yang tepat untuk Bumen. Kata ”bumen” adalah akronim dari Kebumen, kota asal Anwar. Bumbu, seperti bawang merah, bawang putih, kemiri, dan tomat, disangrai terpisah selama 4-5 jam. Setelah itu, bumbu dicampur. Racikan itu untuk membumbui bakmi atau nasi goreng. Bakmi yang dipakai adalah bakmi buatan pabrik.

Dari usaha bakmi itu pula, Anwar mendirikan rumah makan. Malang, rumah makan itu terbakar dan pemerintah melarang pembangunan ulang rumah makan itu. Jadilah, Anwar memindahkan usahanya di rumah di Jalan Pejompongan Raya. Rumah cikal bakal rumah makan ini juga tidak dibangun indah seperti rumah makan lain. Bumen Jaya memilih tetap mempertahankan desain awal rumah itu.

Anak-anak Anwar kini melanjutkan usaha itu. Setiap hari, mereka menjual sekitar 300 porsi bakmi dan nasi goreng. Para pelanggan datang dari berbagai kalangan. Yani mengatakan, sebagian pelanggan adalah orang Jawa yang tinggal di Jakarta dan ingin merasakan kenikmatan masakan dari kampung.

Bakmi di rumah makan Bakmi Jawa juga menjadi pelepas rindu orang Jawa yang merantau di Jakarta. ”Pembeli banyak yang pejabat dan berasal dari Jawa,” ucap Selly, karyawan di rumah makan itu.

Bakmi jawa Bumen dimasak di atas anglo atau kompor tanah liat. Bahan bakar kompor ini adalah arang. Dari situlah, muncul aroma khas bakmi jawa.

Source: Kompas


Artikel Terkait:

Tentang Artikel Ini
Oleh on Mar 20th, 2010 pada kategori Food Story. Anda dapat berlangganan artikel melalui link berikut ini RSS 2.0. Anda dapat meninggalkan komentar melalui formulir berikut atau Pelacakan atas tema ini dari situs Anda

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (*)
E-mail (*)
URI
Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post